Buka Hati Buka Mata

Monday, January 23, 2006

Menjadi Orang Paling Kaya

''Ridhalah dengan apa yang dibagikan Allah SWT untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.'' (HR Turmudzi). Penggalan hadis Rasulullah SAW di atas merupakan bentuk nyata betapa susahnya menumbuhkan rasa qanaah atau merasa cukup.
Hadis itu mengandung maksud orang paling kaya adalah mereka yang qanaah atas apa pun pemberian Allah SWT. Betapa positif dan bermartabatnya hidup ini bila seseorang selalu merasa ridha dan cukup dengan segala kondisinya. Dengan qanaah, yang sedikit akan menjadi banyak dan yang banyak akan menjadi berkah.
Kesenangan tidak akan sempurna dan nikmat tidak akan menjadi besar kecuali dengan memutuskan angan-angan memiliki seperti yang dimiliki orang lain. ''Himpunlah rasa putus asa terhadap apa-apa yang ada di tangan manusia.'' (HR Ibnu Majah).
Sikap tidak menerima atas apa yang telah dimiliki, hanya akan menguras keterkaitan hati dengan Allah SWT. Akibatnya, kehidupan yang sebenarnya tidak akan bisa dirasakan. Sementara kehidupannya menjadi tidak tertata. Ridha dengan pemberian, mensyukuri pemberian Allah SWT, dan menginvestasikannya untuk hal yang bermanfaat, maka inilah sebenarnya yang disebut kaya nan mulia. Allah SWT berjanji kepada orang yang hatinya dipenuhi keridhaan akan memenuhi hatinya dengan kekayaan, rasa aman, penuh dengan cinta, dan tawakkal kepada-Nya.
Sebaliknya, bagi yang tidak ridha, hatinya akan dipenuhi dengan kebencian, kemungkaran, dan durhaka. Pantaskah sebagai seorang hamba mengaku kekurangan, sementara pada waktu yang sama, kita masih memiliki akal. Andai kata akal itu dibeli orang atau menukarnya dengan emas dan perak sebesar gunung, kita pasti enggan menerimanya.
Kita memiliki dua mata yang sekiranya dibayar dengan permata sebesar Gunung Uhud, pasti tidak rela. Saat ini banyak orang enggan mengakui dan menyebut dirinya orang paling kaya. Kekayaan hanya mereka ukur dengan materi, banyaknya harta, dan pangkat yang tinggi.
Bersyukurlah atas nikmat agama, akal, kesehatan, pendengaran, penglihatan, rezeki, keluarga, penutup (aib), dan nikmat lain yang tak terhitung. Sebab, di antara manusia itu ada yang hilang akalnya, terampas kesehatannya, dipenjara, dilumpuhkan, atau ditimpakan bencana.
Kini saatnya untuk menyadari bahwa kita sebenarnya adalah orang yang paling kaya. Caranya dengan selalu qanaah dan merasa ridha. Bersyukur dengan apa yang kita miliki, sehingga hidup lebih bermakna, berkah, serta lebih berarti. Jadikanlah keridhaan itu dengan mengosongkan hati dari berbagai sangkaan dan membiarkannya hanya untuk Allah SWT.

Insya Allah

Kalimat terpopuler di kalangan umat Islam, setelah salam (assalamu'alaikum), adalah insya-Allah. Kalimat ini diucapkan saat seseorang ingin melakukan sesuatu atau berjanji.
''Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu 'sesungguhnya aku akan mengerjakan esok,' kecuali (dengan mengucapkan) insya Allah. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah 'mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.'' (QS Al-Kahfi: 23-24).
Secara literal, kalimat insya Allah berarti bila Allah menghendaki. Sayangnya, kalimat ini kerap disalahgunakan. Ada dua bentuk penyalahgunaan. Pertama, insya Allah dipakai untuk menunjukkan janji yang longgar dan komitmen yang rendah. Insya Allah hanya pengganti dari kalimat, 'tidak janji deh.' Ini keliru sebab nama Allah SWT dijadikan sebagai pembenaran atas kemalasan menepati janji.
Kedua, segala tindakan ditentukan oleh Allah (fatalisme). Artinya, manusia tidak memiliki ruang kebebasan untuk bertindak. Paham ini tidak tepat karena Allah menganugerahi manusia kebebasan berkehendak. Bagaimana seseorang mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan bila seluruh tindakannya ditentukan oleh Allah?
Sebenarnya, insya Allah memiliki falsafah yang mendalam. Pertama, dalam kalimat insya Allah tersimpan keyakinan yang kukuh, bahwa Allah SWT terlibat dan punya andil dalam segala tindak-tanduk manusia. Kesadaran akan kehadiran Allah SWT ini akan memupuk tumbuhnya moral yang luhur (akhlaq al-karimah).
Hanya orang-orang yang merasa dirinya senantiasa ditatap Ilahi saja yang akan mampu menjaga dari segala bentuk pelanggaran. Inilah yang disebut oleh Rasulullah SAW sebagai ihsan, yaitu, ''Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesunggguhnya Dia melihatmu.'' (HR Muslim).
Kedua, ekspresi kerendahhatian (tawadhu'). Seseorang yang memastikan diri bahwa besok akan bertindak sesuatu (sesungguhnya) terselip dalam relung jiwanya sifat kibr (sombong). Termasuk sikap, bahwa dirinya penentu segala sesuatu di masa depan tanpa ada peran Allah SWT. Seharusnya, orang yang berucap insya Allah adalah orang yang sadar bahwa Allah SWT selalu membimbing hamba-Nya.
Ketiga, perpaduan usaha dan penyerahan diri. Dalam kata insya Allah terkandung suatu ketidakpastian akan apa yang terjadi esok. Karenanya, keyakinan ini akan melahirkan motivasi, mempersiapkan secara sempurna hal-hal yang menciptakan kesuksesan dari yang direncanakan, serta memastikan apa yang akan terjadi seperti yang dikehendaki. (QS Al-Hasyr: 18).

Saudagar Termulia

Kaum Muslim sedang didera derita. Kekeringan panjang melanda. Banyak lahan pertanian tak menghasilkan apa-apa. Khalifah Abu Bakar, orang paling bertakwa dari umat Muhammad SAW, saat itu sedang berkuasa. Namun, ujian Allah SWT bisa datang kapan saja. ''Dan sesungguhnya Kami akan beri kamu ujian dengan sebagian dari ketakutan dan kelaparan dan kekurangan harta dan jiwa dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira kepada mereka yang sabar.'' (QS Al-Baqarah: 155).
Dalam situasi seperti itu, tak sedikit pedagang mencoba meraih laba berlipat ganda. Namun, ada saja saudagar berhati mulia. Padahal, peluang menumpuk harta telah di depan mata.
Dialah Utsman bin Affan yang digelari sang pemilik dua cahaya karena menikahi dua putri Rasulullah SAW dalam kesempatan berbeda. Saat itu, kapal-kapal niaganya yang mengangkut komoditas pangan semacam jagung, minyak (mentega), dan kismis baru tiba.
Jumlahnya hanya bisa diangkut seribu unta. Para pedagang dan broker pencari rente menawarkan harga berlipat ganda. Bahkan, ada yang menawar hingga sepuluh kali lipat harga biasa. Tapi, Utsman menolaknya dengan cara halus.
''Adakah yang berani membeli lebih dari 700 kali lipatnya?'' Semua pedagang terpana. Mereka membayangkan, jika harga setinggi itu dengan manipulasi pasar selicik apa pun, takkan pernah meraih laba.
''Bila demikian, semua ini kujual kepada Allah,'' sambung Utsman seraya membagi-bagikan dagangannya kepada kaum miskin begitu saja. Angka 700 kali lipat merujuk pada Alquran QS Al-Baqarah ayat 261, sebagai ganjaran berinfak di jalan-Nya.
Sumbangan Utsman jelas luar biasa. Bila volume satu truk kontainer setara dengan muatan 25 unta, maka ada 40 kontainer sedekahnya. Pernahkah kita melihat konvoi kontainer sebanyak itu milik seorang pedagang saja? Lalu, pernahkah kita mengetahui ada barang impor diinfakkan semudah membalik telapak tangan. Padahal, harga sedang melambung dan suplai di pasar nyaris tidak ada?
Utsman benar, sebagai saudagar dia tidak perlu silau dengan laba di dunia. Sebab, sebesar apa pun untungnya, harta itu takkan dibawa serta kala nyawa meninggalkan raga. Justru, simpanan sejati adalah harta yang dizakatkan, diinfakkan, disedekahkan, diwakafkan, dan dipinjamkan di jalan Allah SWT. Jauh sebelumnya, Utsman telah didoakan Rasulullah SAW agar semua dosa diampuni-Nya. Utsman pun dijamin masuk surga. Itu karena dia membiayai puluhan ribu serdadu perang Tabuk yang melawan Romawi, baik pangan, minuman, kendaraan, maupun senjatanya.
Kini, jangankan meniru Utsman, mencari pedagang yang tidak mempermainkan produsen dan konsumen lemah serta merekayasa harga saja, sangat sulit dicari. Padahal, semua perniagaan dan kekuasaan selalu diaudit-Nya dan pasti diadili-Nya.

Takut Kepada Allah

Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, Rasulullah SAW bersabda, ''Apabila seseorang merasa bahwa di dalam dirinya ada tanda-tanda takut dan berharap kepada Allah, maka ia benar-benar telah memegang teguh urusan yang sangat penting. Tanda takut adalah menjauhi segala hal yang dilarang Allah, sedangkan tanda berharap adalah menjalankan segala hal yang diperintahkan Allah.''
Perasaan takut kepada Allah SWT, sepertinya mulai terkikis dari kalbu kita. Manusia tak lagi malu melakukan, bahkan menampakkan kemaksiatan. Sesuatu yang dilarang Allah SWT justru dilakukan, segala yang dilarang malah ditentang.
Buka aurat membudaya, zina hal biasa, korupsi menggurita, pemimpin tak berpihak kepada rakyatnya, perjuangan syariat Islam ditentang di mana-mana, tatanan Islam terpinggirkan dan senantiasa dipinggirkan. Ke manakah rasa takut kepada-Nya?
Diriwayatkan dari Hasan Al-Bashri, dari Jabir ra, Rasulullah SAW telah mengingatkan, ''Seorang mukmin berada di antara dua ketakutan, antara umur yang telah lalu di mana ia tak mengetahui apa yang Allah perbuat dengannya; dan umur yang masih tersisa di mana ia tak tahu apa yang akan Allah putuskan baginya.''
''Maka, hendaknya hamba itu senantiasa membekali diri dengan amalnya sendiri, dari dunianya untuk akhiratnya, dan dari hidupnya untuk matinya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, setelah mati tidak ada kesempatan untuk bertobat, dan sesudah dunia, tidak ada tempat kecuali surga atau neraka.''
Menurut Al-Faqih Abul Laits As Samarqandi dalam kitab Tanbihul Ghafilin, tanda takut kepada Allah SWT itu tampak dalam tujuh hal. Pertama, menjaga lisan untuk tidak berbohong, menggunjing, dan mengeluarkan kata-kata yang tidak penting. Kedua, menjaga perut agar tidak makan kecuali yang baik dan halal serta sekadar untuk memenuhi kebutuhannya.
Ketiga, menjaga pandangan sehingga tidak melihat dunia dengan pandangan rakus dan hanya untuk mengambil pelajaran. Keempat, menjaga tangan agar tidak melakukan yang haram, tetapi untuk ketaatan kepada Allah SWT. Kelima, menjaga kedua kaki, sehingga tidak akan berjalan untuk maksiat. Keenam, menjaga hati untuk membersihkannya dari rasa permusuhan, benci, dengki kepada sesama. Ketujuh, menjaga ketaatan, sehingga rasa takut hanya kepada Allah SWT, takut riya' dan nifak.
Bencana yang datang bertubi-tubi, seharusnya menjadi sarana peringatan agar takut dan takjub atas balasan dan kekuasaan Allah SWT. Jika di dunia saja peringatan yang diberikan sedemikian dahsyat, bagaimana azab Allah SWT di akhirat kelak bagi orang-orang yang lalai. ''Hari kiamat itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk).'' (QS Hud: 103). Sudahkah rasa takut kepada Allah SWT bersemi di hati kita?

Wednesday, December 14, 2005

Kerendahan hati sang Khalifah

Pertempuran berdarah tengah berkecamuk di Yarmuk. Bala tentara Romawi sedang bertempur mati-matian melawan bala tentara kaum muslimin yang bertempur lebih hebat lagi. Akhirnya patahlah perlawanan orang-orang Romawi. Mereka terpukul mundur, didesak dan terus didesak, dikepung dan ditekan, sehingga akhirnya mereka menyerah. Komandan pasukan Islam saat itu, jenderal Abu Ubaidah, tiada hentinya mengerahkan tentaranya merebut kota demi kota. Dengan gerakan itu, kota suci Yerusalem akhirnya dapat dikepung juga.

Kota Yerusalem telah lama diperkuat dengan benteng-benteng oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena kota itu adalah kota suci bagi mereka. Kaum muslimin pun menganggap bahwa Yerusalem adalah kota suci bagi umat Islam. Oleh karena itu jenderal Abu Ubaidah hanya memerintahkan pengepungan dan tidak melancarkan penyerbuan untuk menghancurkan dinding kota tersebut. Beliau mengirim utusan kepada penguasa Nasrani Yerusalem untuk memintanya agar pasukannya menyerah, untuk menghindarkan kota suci itu dari pertumpahan darah. Penguasa kota itu kemudian membalas pesan jenderal Abu Ubaidah, "Kalau khalifah Umar sendiri yang datang, barulah kami bersedia menyerahkan kota ini kepadanya. Jika tidak, kami akan mempertahankannya sampai titik darah penghabisan."

Jenderal Abu Ubaidah segera mengirim utusan menghadap sang khalifah untuk menyampaikan berita tersebut. Setelah membaca surat itu, khalifah Umar memutuskan untuk berangkat ke Yerusalem. Segeralah beliau mempersiapkan diri. Apakah gerangan yang disebut persiapan itu?. Persiapan itu tidak lain adalah seorang pelayan, seekor unta dan pakaian sederhana. Dengan persiapan itu, beliau berangkat meninggalkan kota Madinah menuju Yerusalem. Inilah beliau, seorang khalifah Islam yang gagah perkasa, yang telah meruntuhkan kerajaan-kerajaan dan kekaisaran-kekaisaran sebagaimana runtuhnya daun-daun dilanda topan, pemimpin dari daerah kesatuan Islam, berangkat hanya didampingi dengan seorang pelayan untuk memenuhi pesan penguasa Yerusalem.

Dari Madinah ke Yerusalem adalah perjalanan yang cukup jauh, kurang lebih 200 mil. Di sepanjang jalan banyak terdapat rintangan-rintangan dan padang pasir yang kering tandus. Langit yang tak berawan memancarkan panas dari sinar matahari yang membakar padang pasir yang luasnya tak bertepi. Namun sang khalifah dan pelayannya serta untanya maju terus menempuh jalan. Akhirnya si unta mulai kecapaian, tak mau maju lagi kecuali dituntun. Sementara itu khalifah Umar menunggang diatas unta dan sang pelayan berjalan didepannya menuntun si unta. Demikianlah hal ini berlangsung beberapa saat.

Khalifah Umar merasa kasihan menyaksikan hal itu. "Bukankah pelayan ini juga manusia, hamba Allah sepertiku?," gumam beliau. Kemudian turunlah beliau dari untanya dan sebagai gantinya beliau menyuruh si pelayan untuk naik ke atas unta. Si pelayan tak dapat berbuat apa-apa karena ini atas perintah sang khalifah sendiri. Kini, khalifah Umarlah yang berjalan didepan menuntun si unta.

Mereka terus berjalan, sambil bergantian menunggang dan menuntun unta. Akhirnya sampailah mereka itu di batas kota Yerusalem dan siap hendak memasuki kota tersebut. Penguasa Nasrani Yerusalem bersama jenderal Abu Ubaidah serta ribuan massa sedang menanti-nanti kedatangan sang khalifah. Dari jauh mereka telah melihat dengan kegirangan kedatangan orang yang ditunggu-tunggunya. Unta semakin lama semakin mendekat. Pada waktu itu kebetulan sang pelayan lagi mendapat gilirannya menunggang si unta. Mendekatlah sang khalifah dengan tali kekang di tangannya. Penguasa Nasrani itupun segera maju memberi hormat kepada orang yang berada diatas unta, yang dikiranya adalah sang khalifah. Majulah salah seorang di antara mereka memberitahukan yang manakah sesungguhnya sang khalifah itu. Sambil menuntun untanya, dibawah ribuan sorotan mata penuh keheranan, tampillah khalifah Umar menjabat tangan penguasa Yerusalem. Kemudian sambil bergandengan tangan, masuklah mereka ke kota suci Yerusalem.

Akhirnya perundingan penyerahan pun berhasil dilangsungkan. Setelah selesai perundingan, penguasa Yerusalem menyiapkan sebuah istana dengan perlengkapan mewah sebagai tempat tinggal sang khalifah untuk beristirahat sebelum kembali ke Madinah. Tetapi khalifah Umar menolak tawaran tersebut dan dengan ramah beliau berkata, "Saya sesungguhnya lebih senang hidup bersama-sama dengan saudara-saudaraku di kemah yang buruk itu." Disanalah beliau akhirnya beristirahat selama sepuluh hari, bercakap-cakap dan berkelakar dengan para pahlawannya, kemudian kembali ke Madinah.

[Disarikan dari Rangkaian Tjeritera dari Sedjarah Islam, Ahmad DM, hal. 59-61, cetakan I, penerbit Attahirijah]

Hati, Mata, dan Telinga

Allah SWT menciptakan manusia dengan pelbagai keajaiban yang menyertainya: mata dengan kemampuan melihat, telinga dengan kemampuan mendengar, dan hati dengan kemampuan mempersepsi (memahami). Di lain pihak, ada juga manusia yang tidak bermata (matanya tidak berfungsi) tetapi dapat melihat, telinganya rusak tetapi tidak tuli alias peka terhadap ayat-ayat Allah.

Di hari kiamat kelak, penglihatan, pendengaran, serta pemahaman, semua itulah yang dimintai pertanggungjawaban. Adapun mata, telinga, dan hati fisikal hanya didudukkan sebagai saksi. Manusia yang paling buruk ialah yang tidak bisa memanfaatkan tiga unsur keajaiban manusiawi itu demi mengetahui kebenaran Allah dan ayat-ayat-Nya. Sehingga, Allah sampai menyejajarkan mereka dengan binatang ternak, bahkan lebih buruk lagi, dan tempat kembali mereka di akhirat kelak adalah neraka jahanam.

''Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka) jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti binatang, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.'' (QS 7:179, lihat pula QS 46:26 dan QS 17:36).

Tiga alat vital dalam agama dan kehidupan manusia ini seringkali tidak mendapat asahan dan asuhan yang memadai dalam rangka merengkuh suatu perubahan yang konstruktif dalam hidup, yaitu menambah ketajaman penglihatan, pendengaran, ataupun pengelolaan hati (manajemen kalbu) di jalan Allah. Sebaliknya, kebanyakan manusia lebih memperturutkan dirinya pada hawa nafsu yang ditunggangi kebodohan, dusta, dan prasangka yang tidak berdasar (QS 6:148; QS 27:84). Padahal Allah berfirman, ''Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.'' (QS 17:36).

Marilah bersama-sama menjaga hati, mata, dan telinga kita agar tidak tunduk dalam arahan hawa nafsu. Ketiganya haruslah selalu diasah dan dikelola untuk mengetahui, mengerti, serta memahami ayat-ayat Allah, baik yang kauniyyah (alam dan lingkungan sekitar) maupun yang qauliyyah (Alquran dan sunah). Sehingga, kita selalu hidup sesuai kehendak-Nya dan semakin mulia kedudukan kita di sisi-Nya. Tanpa mengupayakan hal itu, niscaya hidup kita akan gelap dan tidak terarah, dan lebih celakanya lagi, di akhirat kita kelak akan menghadap Allah dalam keadaan buta, tuli, dan bisu (meskipun di dunia ini keadaan fisikal kita normal, tanpa cacat apa pun), disebabkan dosa kita yang amat besar, yakni mengabaikan dan lalai akan ayat-ayat-Nya. (QS 17:97)

Hati-hati dengan Lisan

Lisan, kata ulama besar Imam Ghazali, merupakan kenikmatan besar yang dianugerahkan kepada manusia. Dengan lisannya manusia bisa berbicara, sehingga mampu berkomunikasi dengan lancar di antara sesamanya. Dengan lisan pula seseorang bisa dibedakan apakah ia Muslim atau non-Muslim. Pengucapan Syahadatain adalah buktinya. Menurut Ghazali, sekalipun seseorang meyakini ajaran Islam, akan tetapi jika tidak mengucapkan Syahadatain, maka belumlah dikatakan Muslim.

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Wahai Rasulullah, perbuatan apakah yang akan menjagaku dari kebinasaan?'' Rasulullah SAW menjawab, ''Berimanlah kamu kepada Allah dan beristiqamahlah dalam memegang ajaran-Nya.''

Kemudian sahabat tersebut bertanya lagi, ''Wahai Baginda Rasul, perilaku apakah yang engkau khawatirkan atas diriku?'' Rasulullah SAW memberikan jawaban dengan mengisyaratkan pada lisannya. Lisan memang mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam kehidupan. Perang dan damai, persahabatan dan permusuhan, serta hal-hal lainnya yang menyangkut nasib hidup bisa berawal dari lisan.

Alquran dan hadis telah memberi petunjuk supaya dalam pelaksanaan ibadah dan muamalah kita senantiasa menjaga lisan, baik dari sikap riya maupun mengeluarkan perkataan yang menyakiti orang lain. Allah SWT berfirman, ''Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang-orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia ....'' (QS 2: 264). Demikian halnya dalam bermuamalah, baik kepada orang tua, maupun kepada sesama, sebagaimana arahan Lukman kepada anak-anaknya.

''Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.'' (QS 31: 19). Dalam sebuah hadis dikisahkan, ada seseorang yang selalu berbuat baik dan gemar bersedekah. Tapi, di akhir hayatnya ia mendapatkan kebinasaan, dikarenakan ia selalu mengumbar amalnya, serta menyakiti saudara yang telah ditolongnya. Sabda Rasul lainnya menyatakan bahwa menjaga lisan adalah salah satu tanda seseorang yang taat kepada Allah dan beriman kepada Hari Akhir. Ujar beliau, ''Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah dengan perkataan yang baik atau diam.''

Dalam hadis lain dijelaskan bahwa tanda-tanda orang munafik adalah senantiasa mengumbar janji dengan tidak menepati janji yang ia ucapkan. Demikianlah peran lisan. Ia bisa bermanfaat namun bisa pula menimbulkan malapetaka. Yang terakhir ini termasuk menyebarkan gosip untuk memprovokasi orang lain sehingga timbul gejolak yang merugikan masyarakat banyak. Untuk itu, sebaik-baiknya perangai seorang Muslim adalah meninggalkan perbuatan --baik perkataan ataupun perilaku-- yang tidak bermanfaat.

"Iffah" (Menahan Diri)

Setiap orang pasti mempunyai kemampuan untuk menahan diri, hatta anak kecil sekalipun. Menahan diri dari keinginan-keinginan yang kalau sekiranya terus diikuti tak akan pernah ada puasnya. Itulah yang dinamakan 'iffah sebagaimana didefinisikan Ibnu Maskawaih di dalam kitabnya Tahdzibul Akhlak. Yaitu, suatu kemampuan yang dimiliki manusia untuk menahan dorongan hawa nafsunya. 'Iffah merupakan keutamaan yang dimiliki manusia ketika ia mampu mengendalikan syahwat dengan akal sehatnya.

Dari sifat 'iffah inilah lahir akhlak-akhlak mulia seperti sabar, qana'ah, adil, jujur, dermawan, santun, dan perilaku terpuji lainnya. Sifat 'iffah ini pulalah yang membuat manusia menjadi mulia. Sekiranya manusia sudah tidak lagi memiliki sifat ini, maka tidak ubahnya dia seperti binatang. Karena, ketika seseorang mampu memfungsikan 'iffah-nya, berarti akal sehatnya bekerja dengan baik.

Dan akal inilah yang membedakan manusia dengan binatang. Tetapi, ketika 'iffah sudah hilang dari dalam diri, berarti akal sehatnya sudah tertutup oleh nafsu syahwatnya, ia sudah tidak mampu lagi membedakan mana yang benar dan salah, mana baik dan buruk, yang halal dan haram.

Allah SWT berfirman, ''Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian ('iffah diri)-nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.'' (QS 24: 33). Ketika manusia sudah mencapai kematangan alat reproduksinya, dan sudah saatnya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya (syahwatnya), maka dengan sifat 'iffah yang dimilikinya ia mampu untuk menahan diri dari berzina, sehingga pada saatnya kelak, Allah memberikannya kecukupan harta untuk menikah. Tetapi, sekiranya 'iffah itu hilang, maka perzinahan sudah pasti tak terelakkan lagi.

'Iffah pada diri manusia merupakan sifat potensial yang harus dididik sedemikian rupa sehingga bisa menjadi benteng dalam menjaga kemuliaan eksistensi dirinya. 'Iffah tidak bisa diraih hanya dengan mempelajari teori. 'Iffah hanya bisa diraih dengan pendidikan jiwa (tarbiyyatu al-nafs) dengan amal-amal saleh sejak kecil.

Maka, tidak aneh kalau Nabi Muhammad SAW, sebagai uswah hasanah kita dalam segala bidang kehidupan, memerintahkan kita untuk menyuruh anak melaksanakan shalat sejak umur tujuh tahun. Karena, memang, 'iffah yang ada pada diri manusia harus sudah dididik semenjak kecil, agar dari didikan tersebut lahir kebiasaan yang akhirnya tumbuh menjadi akhlak.

Untuk memperbaiki dekadensi moral yang sedang mewabah, perlu dipulihkan kembali kekuatan 'iffah pada jiwa-jiwa masyarakat Indonesia. Dan, pendidikan hati (tarbiyyatu nafs) adalah jawabannya.

Rasulullah SAW bersabda, ''Ingatlah di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Apabila ia baik, maka akan baiklah seluruh badannya, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh badannya. Ingatlah dia itu adalah hati.''

Teladan Abu Bakar As-Shiddiq

Abu Bakar As-Shiddiq merupakan sahabat Rasulullah SAW yang sangat istimewa. Selain setia pada Rasulullah, dalam dirinya juga menonjol sifat jujur dan bijaksana. Ia juga selalu berkata yang benar sehingga dijuluki dengan as-shiddiq (orang yang jujur). Abu Bakar sangat jujur dalam mengemban amanat dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.


Selama menjadi khalifah, ia selalu memperhatikan rakyatnya. Hidupnya sangat sederhana dan tidak pernah menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi maupun keluarganya. Dikisahkan, ketika Khalifah Abu Bakar merasa ajalnya hampir datang menjemput, beliau memanggil putri tercintanya, Siti Aisyah, untuk menyampaikan sebuah wasiat. ''Wahai Aisyah putriku, aku telah diserahi urusan kaum Muslimin, aku telah memakan makanan yang sederhana dan aku juga telah memakai pakaian yang sederhana dan kasar.


Yang tersisa dari harta kaum Muslimin padaku adalah seekor unta, seorang pelayan (pembantu) rumah tangga, dan sehelai permadani yang sudah usang. Kalau aku wafat, kirimkan semuanya kepada Umar bin Khattab. Karena, aku tidak ingin menghadap Allah sedangkan di tanganku masih ada harta kaum Muslimin walaupun sedikit,'' demikian wasiat Abu Bakar kepada putrinya. Ada beberapa hal yang bisa ditarik dari wasiat itu. Pertama, gambaran bahwa seorang pemimpin tidak boleh menggunakan fasilitas umat (negara) untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Hidup sederhana merupakan keharusan pemimpin. Hidup sederhana seperti ini sulit dilakukan bila keimanan tidak melekat pada diri sang pemimpin.


Rasulullah SAW bersabda, ''Tidak dikatakan seorang itu beriman apabila tidak amanat dan tidak dikatakan beragama seseorang yang tidak berakal.'' (HR Dailami). Kedua, Khalifah Abu Bakar merupakan salah seorang tipe pemimpin yang sangat bertanggung jawab. Sebagai bukti, meskipun ajal hampir datang menjemput, ia masih juga memikirkan harta umat, amanat kaum Muslimin. Padahal, apalah artinya seekor unta, seorang budak, dan sehelai permadani yang sudah usang dibandingkan dengan kekuasaan besar yang digenggamnya. Namun, itulah bukti nyata bahwa Abu Bakar adalah pemimpin yang selalu mengutamakan amanat dan tanggung jawab tanpa melihat nilai yang terkandung pada barang-barang itu.


Sikap dan perilaku Abu Bakar yang demikian sebenarnya tidak mengherankan apabila mengingat hadis Rasulullah yang berbunyi, ''Barang siapa diserahi kekuasaan (tanggung jawab) urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum lemah dan orang yang membutuhkannya, maka Allah tidak akan mengindahkannya pada hari kiamat.'' (HR Ahmad). Hanya pemimpin yang beriman dan punya hati nuranilah yang mampu memahami pesan yang tersirat pada wasiat yang disampaikan oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq tersebut. Perangai pemimpin yang demikianlah harapan seluruh umat. Semoga lahir abu bakar-abu bakar modern yang memiliki sifat jujur dan amanah, sebagai pemimpin masa depan yang kita dambakan.

Tuesday, December 13, 2005

Membersihkan 'Sampah' dari Pikiran by KH Abdullah Gymnastiar

Saudaraku, ada kisah menarik dari Anas bin Malik. Suatu ketika ia berjalan dengan Rasulullah SAW. Ketika itu, datanglah seorang Arab badui dari arah belakang. Dengan serta-merta ia menarik jubah najraani yang dikenakan Rasulullah SAW.
Anas berkata, ''Aku memandang leher Rasulullah dan melihat bahwa jubah itu telah meninggalkan bekas merah di sana karena kerasnya tarikan. Orang badui itu kemudian berkata, 'Wahai Muhammad, beri aku sebagian dari kekayaan Allah yang ada di tanganmu'. Rasul kemudian menoleh kepadanya, dan tersenyum, lalu memerintahkan agar orang itu diberi uang.''
Kisah ini menggambarkan betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW. Beliau tidak pernah membalas keburukan orang dengan keburukan lagi. Saat dihina, beliau tidak marah atau sakit hati. Beliau justru mendoakan kebaikan. Mengapa Rasulullah SAW mampu tenang dan bijak menghadapi gangguan orang lain? Jawabnya, Rasulullah SAW memiliki kelapangan dada dan kejernihan pikiran.
Ternyata, yang membuat hidup kita tidak bahagia adalah diri kita. Penyikapan yang buruk terhadap suatu kejadian adalah sumber penderitaan. Mirip orang yang sariawan makan keripik pedas. Ia menangis, marah, dan uring-uringan. Yang membuat ia menderita bukan keripiknya, melainkan lidahnya yang berpenyakit. Bagi orang yang tidak sariawan, keripik tersebut nikmat dan renyah.
Saudaraku, ada banyak hal yang membuat hidup kita tidak nyaman. Salah satunya adalah kegemaran menyimpan ''memori-memori'' buruk. Otak bisa diibaratkan wadah penyimpanan yang akan kotor ketika kita mengisinya dengan sampah.
Pengalaman-pengalaman buruk, seperti penghinaan, perlakukan buruk, cemoohan, ketersinggungan, kegagalan, dan lainnya; adalah ''sampah'' yang berpotensi mengotori pikiran. Semakin sering kita menyimpan memori buruk di otak, semakin negatif sikap dan perilaku kita.
Karena itu, satu syarat agar hidup kita bahagia adalah membersihkan kepala dari ''sampah-sampah'' busuk. Bagaimana caranya? Pertama, selalu berusaha mengingat kebaikan orang dan melupakan keburukannya. Saat orang lain menyakiti kita, carilah seribu satu alasan agar kita tidak benci. Ingatlah selalu kebaikannya. Jangan sampai kita mengabaikan seribu kebaikan orang, hanya karena satu keburukan yang boleh jadi tidak sengaja ia lakukan.
Kedua, segera lupakan semua perlakuan buruk orang lain. Ibaratnya, kalau tinta mengotori muka, maka tindakan yang bijak adalah segera membersihkannya, bukan membiarkannya, atau menunjukkannya pada yang lain. Demikian pula saat orang berlaku buruk pada kita, menghina misalnya, alangkah bijak bila kita segera menghapusnya, bukan memendamnya, membesar-besarkannya, atau menunjukkannya pada banyak orang.
Ketiga, mohonlah kepada Allah SWT agar diberi hati yang lapang dan pikiran yang jernih. Ada doa dalam Alquran yang bisa kita panjatkan, ''Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku; dan mudahkanlah urusanku; dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku; agar mereka mengerti perkataanku.'' (QS Thaahaa [20]: 25-28).

Syukur Nikmat

Dalam surat Al-Baqarah ayat 152, Allah SWT berfirman, ''Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.'' Ayat ini secara jelas dan gamblang memerintahkan kepada kita untuk selalu mengingat Allah dan bersyukur atas segala nikmat-Nya.
Secara bahasa, syukur berarti berterima kasih kepada Allah. Sedangkan Ar-Raghib Al-Isfahani, salah seorang yang dikenal sebagai pakar bahasa Alquran, dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, mengatakan bahwa kata 'syukur' mengandung arti gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan. Kesyukuran, pada hakikatnya, merupakan konsekuensi logis bagi seorang manusia, yang notabene sebagai makhluk, kepada Allah, sebagai Tuhan yang telah menciptakan dan melimpahkan berbagai nikmat. Namun, kerap kali manusia terlupa dan tidak bersyukur atas karunia-Nya.
Ketidakbersyukuran manusia, biasanya disebabkan oleh tiga hal. Pertama, salah melakukan ukuran/menilai. Dalam konteks ini maksudnya bahwa manusia selalu mengukur suatu nikmat dari Allah itu dengan ukuran keinginannya. Artinya, jika keinginannya dipenuhi, maka ia akan mudah untuk bersyukur. Sebaliknya, jika belum dikabulkan, maka ia akan enggan untuk bersyukur. Penilaian seperti ini jelas bertentangan dan cenderung menafikan nikmat yang diberikan. Penilaian yang benar adalah berdasarkan apa yang kita peroleh. Karena, apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik di hadapan Allah. Dan, belum tentu juga itu yang terbaik buat diri kita.
Perhatikan firman Allah, ''Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.'' (QS 2: 216). Kedua, selalu melihat kepada orang lain yang diberikan lebih banyak nikmat. Perilaku ini hanya menyuburkan iri, hasad, dan dengki kepada orang lain. Sedangkan perilaku bagi orang beriman haruslah melihat kepada orang yang kurang beruntung. Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim, mengajarkan, ''Apabila seseorang di antara kamu melihat orang yang dilebihkan Allah dalam hal harta benda dan bentuk rupa, maka hendaklah ia melihat kepada orang-orang yang lebih rendah daripadanya.
'' Ketiga, menganggap apa yang didapati dari nikmat Allah adalah hasil usahanya. Perilaku ini menumbuhkan sifat kikir dan melupakan Allah sebagai pemberi nikmat tersebut. Padahal, tidak ada satu nikmat pun yang datang dengan sendirinya. Melainkan, Allah yang telah mengatur semuanya. Firman Allah SWT, ''Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.'' (QS 31: 12). Kini, mumpung Allah masih memberikan waktu, sudahkah kita mensyukuri semua nikmat-Nya? Wallahu a'lam bis-shawab.

Monday, December 12, 2005

Kekuatan tanpa kekerasan

Disadur dari The Power Of Nonviolence oleh Dr. Arun Gandhi

Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Suatu hari, ayah meminta saya mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, "Ayah tunggu kamu di sini pukul 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama."

Segera saja saya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh ayah.

Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu ingat, jam telah menunjukkan pukul 17.30, langsung saya berlari menunju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayah yang ternyata sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18.00.

Dengan gelisah ayah menanyai saya, "Kenapa kau terlambat?"

Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton film John Wayne sehingga saya menjawab, "Tadi, mobilnya belum selesai sehingga saya harus menunggu."

Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan, kini ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu ayah berkata, "Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kamu sehingga kamu tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkan nhal ini baik-baik."

Lalu, dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dia alami hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.

Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi. Tobat, sesungguhnya. Seringkali saya berpikir mengenai episode ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai tanpa-kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa-kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin.

Itulah kekuatan tanpa-kekerasan.

Tangan mungil itu tak sempat kuraih...

Saat mendapat berita gembira tentang kehamilan pertamaku, aku bersama suami langsung sujud syukur. Pada 12 Desember 2000, putriku lahir. Ia kami beri nama Norifumi Sophie Rachmania. Rasanya aku mengalami kebahagiaan yang tiada tara. Ia adalah sosok mungil pemberi semangat, sekaligus penghibur dalam kehidupan kami yang pas-pasan kala itu. Demi dialah kami bertahan menjalani hari demi hari.


Hidup kami rasanya makin lengkap dengan keberadaannya. Apalagi, ditambah kehadiran anak kami yang kedua, M. Noriyuki Fachrurazi atau Yuki (1,6). Kehidupan keluarga kami terasa kian harmonis. Setiap akhir pekan, kami sekeluarga selalu pergi berjalan-jalan. Entah itu ke arena permainan anak-anak, ke mal, atau hanya makan bersama di restoran siap saji.

Sampai pada suatu akhir pekan kelabu itu, yang membuat acara akhir pekan kami tak bisa lagi sama. Hidup kami rasanya langsung jungkir balik.... Sabtu sore (30/08) itu, kami tidak langsung pergi jalan-jalan. Berhubung minggu depannya ada saudara yang akan menikah, aku mengajak singgah ke tempat penjahit langganan terlebih dahulu yang terletak di Jalan Sawo Kecik, Bukit Duri, Jakarta.


Sebetulnya yang turun di situ cukup aku saja. Tapi, Sophie bersama tantenya (adikku) ikut turun. Yuki tinggal di mobil bersama suamiku. Jalanan di sekitar tempat itu memang tidak terlalu lebar, hanya tiga meter. Lokasinya sih, lebih mirip gang, tapi mobil bisa lewat dari dua arah, meskipun mepet. Jalan itu, kecil tanpa trotoar, tapi suasananya "hidup". Kendaraan umum seperti mikrolet banyak yang melewati jalan itu.


Ketika aku sedang asyik menerangkan design baju yang kuinginkan pada penjahit, adikku berkata, "Teh, aku ambil Yuki dulu, ya." Aku mengiyakan saja. Sayangnya, aku tidak menyangka Sophie mengikuti tantenya. Sekilas aku masih melihat Sophie menyusul langkah adikku. Ternyata, setelah aku lihat lebih jelas, adikku sudah berada di seberang jalan, sedangkan Sophie baru saja hendak menuju ke jalan. Secepatnya, aku mencoba menyusul dan berusaha meraih tanggannya. Belum sempat kuraih, dia terus berjalan. Dalam hati, aku berdoa, semoga tidak ada mobil yang lewat. Perasaanku pun deg-degan.


Tiba-tiba, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi datang. Buum! Tubuh Sophie dihantamnya, tepat di depan mataku. Ya Tuhan....! Hanya selang beberapa detik, aku melihat tubuh Sophie terpental sekitar 50 meter di depan mobil tadi. Belum sempat aku berbuat apa-apa, mobil yang melaju itu --sepertinya pengemudinya tidak bisa mengerem-- kembali menerjang tubuh anakku yang terbaring di jalan. Melihat kejadian itu, tak kuasa aku untuk berteriak, walaupun hatiku menjerit kencang. Aku seperti dipaku ditempat. Shock!


Peristiwa itu terjadi di depan mata kami semua: aku, suami, anakku, dan adikku. Kami lantas berlarian ke arahnya. pedih sekali rasanya melihat bidadari kecilku berlumuran darah, merintih kesakitan sambil mengucap dengang lirih, "Ayah...Ayah...Ayah..."


Kami berebut masuk ke mobil, melarikannya secepat mungkin ke Rumah Sakit Mitra Internasional di Kampung Melayu yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kejadian. Sepintas, aku masih melihat mobil yang menabraknya tidak bergerak. Pengendaranya, seorang wanita berusia kurang dari 40 tahun, terlihat masih shock. Suamiku mengklakson mobilnya berulang-ulang agar menepi, memberi jalan buat kendaraan kami. Akhirnya dengan bantuan orang-orang di sekitar lokasi itu, mobil wanita tersebut bisa dipinggirkan. Di mobil, Sophie masih dalam keadaan sadar. Dia terus merintih. Wajahnya kebam-lebam. Aku tahu, betapa sakitnya dia. Melihat itu, rasanya aku ingin mati saja. Aku cuma bisa bilang, "Kakak tahan, ya? Tahan, ya?" untuk menenangkannya.


Sampai di rumah sakit, Sophie langsung masuk ke ruang UGD dan mendapat perawatan intensif. Kami bersyukur Sophie dapat ditangani dengan cepat, tanpa harus melewati prosedur segala macam. Aku terus menagis sambil menunggu kepastian dari dokter. Perasaanku galau. Beberapa jam kemudian dokter yang menanganinya keluar dari ruang operasi.


"Kondisi anak ibu sangat kritis. Paru-paru kanannya pecah, kedua tulang bahunya rontok, tulang rusuk retak, dan di tengkorak pangkal otaknya juga retak. Kami belum bisa berharap banyak," ujar dr. Antonius, spesialis anak.


Setelah mendengar penjelasan itu, pandanganku langsung buram, lututku lemas, dan hati ini rasanya seperti ditusuk-tusuk.


Keluargaku sepertinya sudah pasrah mendengar vonis dokter. Tapi, aku belum menyerah. Aku terus berharap, malaikat mungilku bisa kembali ke pelukanku. Aku terus berdoa agar beberapa operasi yang dia jalani hari itu membawa mukjzat. Lewat jendela kamar, kupandangi sosok mungil itu. Sedih sekali melihat tubuhnya harus "dilubangi" untuk mendapat bantuan perawatan dari mesin. Kenapa bukan aku saja yang menggantikannya? kurasakan, air hangat mengalir dari kelopak mataku.


Sambil memandanginya, aku teringat peristiwa Sabtu pagi itu. Ayahnya bercerita tentang mimpi yang dialaminya dua malam berturut-turut. Mungkin itu firasat ayahnya. Mimpi pertama, ayahnya memimpikan Sophie meninggal dunia. Dia melambaikan tangannya sambil tersenyum. Padahal, menurut mitos, mimpi itu artinya orang yang dimimpikan malah panjang umur. Malam kedua, dia melihat air bah yang bening, sekitar 50 meter. Dia menyelamtkanku dan sikecil, Yuki. Tapi, Sophie tidak ada. Saat suamiku menceritakan kepadaku, aku hanya tertawa saja, dan mengatakan bahwa itu hanya bunga tidur, tidak berarti apa-apa. Siapa sangka kami akan mengalami hal ini?


Hari Minggu-nya, ternyata masa kritis Sophie bisa dilewati, meskipun 90% fungsi tubuhnya masih dijalankan oleh mesin. Kondisinya belum membaik, tapi harapanku muncul kembali. Keesokan harinya, fungsi tubuhnya sudah mulai membaik. Paginya, dia hanya mendapat bantuan mesin 40% saja. Siangnya malah lebih baik lagi, hanya 10%. Secara umum, kondisi tubuhnya mulai membaik, jantungnya bekerja sendiri, paru-parunya sudah berfungsi kembali. Rasanya bahagia sekali, sepertinya doa-doaku terjawab.


Sambil menunggui di samping tempat tidurnya, aku sering menyanyikan lagu anak-anak kesayangannya. Sophie memang suka sekali menyanyi. Sepertinya aku juga mendengar suaranya mengikuti irama lagu yang kunyanyikan.


Tapi, kebahagiaan tersebut tidak bertahan lama. Ada satu bagian luka yang tidak terlihat oleh dokter. Di bagian otaknya terdapat rembesan darah yang tidak terdeteksi. Hal ini menyebabkan dia kejang dan kondisinya kembali memburuk. Hatiku cemas sekali. Aku terus berdoa kepada Tuhan agar diberikan kesempatan kedua untuk merawatnya lagi. Aku masih yakin, Sophie akan kembali sehat, apalagi aku melihat usaha keras dr. Antonius. Jantungnya masih terus dipompa.


Namun, takdir berkata lain. Saat melihat dia mengembuskan napas terakhir, aku masih belum percaya dia sudah pergi untuk selama-lamanya. Aku terus berteriak, "Kakak pulang, ya? Kakak cepat pulang lagi, ya," jeritku tidak rela melepasnya. Bude-ku yang sudah lama berada di sampingku berkata sambil menepuk pundakku, "Likat, Sophie tersenyum." Aku melihatnya. Ternyata benar, dia tersenyum manis. Melihat itu, rasanya aku ingin mendekati untuk memeluknya dan tak akan kulepaskan lagi. Tapi, aku hanya bisa memandanginya dari balik jendela ruang ICU. Akhirnya, tepat pukul 16.40, Sophie dinyatakan telah tiada.


Kini, yang bisa kulakukan hanyalah mengenangnya. Aku masih ingat kala pertama kali menggendongnya di pelukanku. Rasanya bahagia sekali, sekaligus lega, sebab proses kelahirannya tidak semudah yang kubayangkan. Setiap kontraksi, aku hampir pingsan, karena tidak kuat menahan sakit. Tapi, dokter yang membantu persalinanku sangat sabar. Keputusan untuk dioperasi caesar pun sudah di depan mata. Tetapi, tak berapa lama, dengan cara divakum bayi perempuan mungil itu akhirnya keluar juga. Kami memberinya nama Sophie, sesuai dengan nama dokter yang menolong persalinanku. Norifumi juga nama yang sangat unik, artinya malaikat. Dia memang malaikat kecil kami.


Semua orang dalam keluargaku menyayangi Sophie. Perilakunya yang riang dan lincah selalu membuat hati setiap orang yang melihatnya ikut gembira. Aku sangat bersyukur akan kehadirannya dalam kehidupan kami. Dia anak yang sangat mengerti orang tua. Tidak banyak permintaan dan selalu menurut kepada orang tuanya.


Sejak bayi pun Sophie tergolong anak yang kuat. Tidak gampang jatuh sakit. Saat ayahnya masih bergabung dengan kelompok lawak Padhyangan 6, Sophie selalu menyertai ayahnya manggung. Bahkan, tidak jarang juga dia dibawa keluar kota. Untungnya dia anteng dan tidak rewel. Jadi, semua crew yang ada juga ikut menjagainya. Bisa dibilang, Sophie adalah anak asuhan Padhyangan. Setelah usianya beranjak 9 bulan, ayahnya mengundurkan diri dari kelompok itu dan hijrah dari Bandung ke Jakarta untuk bekerja di salah satu provider telepon selular. Di Jakarta kehidupan kami makin membaik. Kami membangun keluarga ini mulai dari nol. Tapi, sepertinya, setelah kelahiran Sophie, rezeki selalu saja datang. Makanya, kami sering bilang Sophie itu pembawa berkah dalam keluarga kami. Kadang-kadang, kami menyebutnya secara guyon sebagai "anak preman", karena dia cepat beradaptasi di segala situasi dan kondisi. Diajak naik becak, angkot, motor, hingga sekarang naik mobil pun dia oke-oke saja.


Istimewanya, dia cepat menghafal sesuatu. Walau usianya baru dua tahun lebih, dia sudah hafal banyak lagu. Lagu-lagu dalam satu VCD anak-anak bisa dinyanyikannya semua. Kesukaannya menyanyi ini tidak hanya dilakukan di rumah. Di acara anak-anak, dimana pun, kalau disodori mikrofon, dia langsung tarik suara, tanpa malu.


Sophie sangat dekat dengan ayahnya. Aku tahu, ayahnyalah yang paling merasa kehilangan. Sophielah yang selalu membangunkan ayahnya setiap pagi, lalu membawakan koran dan secangkir teh. Meskipun sering tumpah di tempat tidur, aku tidak sanggup melarangnya melakukan kebiasaan itu. Kini, tidak ada lagi suara yang berkata, "Ayah, hati-hati, ya?" sambil melambaikan tangannya dan mengantarkan ayahnya berangkat kerja. Tak ada lagi sapaannya untuk ayahnya via telepon setiap siang. "Ayah cepat pulang, ya," celotehnya manja.


Beberapa minggu setelah dia pergi, rasa sakit terus menderaku. Apalagi mulai muncul kerinduanku untuk memeluk dan menciumnya. Rindu mendengar celotehannya, rindu menlihat gerak-geriknya, rindu sapaannya. Saking rindunya, aku sering menangis sejadi-jadinya. Akhirnya, aku shalat untuk menenangkan hati.


Banyak orang bilang, anak adalah titipan Tuhan. Tapi, kadangkala aku masih terus bertanya-tanya, mengapa Tuhan mengambilnya terlalu cepat, padahal kami menerima dengan sepenuh hati titipan-Nya tersebut? Apa dosa kami? Apa kesalahan kami? Tapi, mungkin ini adalah rencana Yang Mahakuasa, karena di sisiNya Sophie pasti lebih bahagia.


Aku mencoba bersikap tegar, walau setiap sudut rumahku selalu mengembalikan kenangan tentang Sophie. Tidak hanya itu. Saat berbelanja, membayar listrik atau telepon, ke bank, atau hanya jalan-jalan di depan rumah, selalu terasa ada dia di sampingku. Karena, ke mana pun aku pergi selama ini, Sophie selalu kuajak. Lucunya, bila diajak ke mal, bukannya dia yang lelah, malah dia yang sering bertanya padaku, "Mama capek, ya?"


Sophie sudah pergi, dan tak ada cara untuk mengembalikannya padaku. Betapapun sakitnya, kami tidak dendam dengan wanita yang menabraknya. Kami malah menganggapnya saudara. Dia benar-benar bertanggung jawab atas perbuatannya. Selama Sophie dirawat, dia terus berada di rumah sakit, termasuk saat pemakaman. Kami tahu, dia pasti tidak sengaja. Sebab, seperti kami, dia juga shock dan stres.


Kenangan indah bersama Sophie, mulai dari kelahiran hingga akhir hisupnya, menjadi memori yang tak akan kami lupakan. Selamat jalan malaikat kecilku!


(Kisah nyata M. Denny Abe (32) dan Henna Hennyastuty (30), yang harus ikhlas melepas kepergian putri pertama mereka, Norifumi Sophie Rachmania (2 tahun 8 bulan), akibat ditabrak mobil ).